RSS

remaja dan sumber-sumber makna hidup

04 Mar

Remaja, siapa sich?

 

Diantara seluruh tahap kehidupan yang kita alami, mungkin salah satu tahap yang paling tak terlupakan adalah masa remaja, karena tampaknya tidak ada fase lain yang lebih banyak dipenuhi denan pengalaman tentang patah hati, konflik batin dan kesalahpahaman selain masa remaja. Kita masih dapat mengingat antara rasa sakit dan kebahagiaan bercampur menjadi satu yang kita alami saat remaja. Kita tetap menyimpan kenangan, betapa kita begitu sering dan cepat berubah-ubah, betapa kita begitu mengharapkan penerimaan, dan betapa kita begitu meraa kesepian dan kesendirian. Kadang kita juga merasa mengapa tidak ada orang yang mau mengerti kita. Kita merasa heran bagaimana semua ini dimulai dan dari mana. Semua ini terjadi pada masa remaja, saat yang penuh gejolak dan keinginan, tetapi tidak jarang mengakibatkan begitu banyak eprsoalan jika tidak jarang mengakibatkan begitu bnayak persoalan jika tidak disikapi secara arif dan bijak.

Remaja sering diidentikkan dengan usia belasan tanhu sehingga dalam bahasa inggris “remaja” juga disebut “teeneger”, selain kata adolescent. Akan tetapi, remaja tidak hanya dapt diidentifikasi berdasarkan usia, tetapi juga bisa ditelisik dari kehidupan yang penuh keceriaan, warna-warni, dan permulaaan usia mengenal lawan jenis. Selain itu, di usia remaja kita juga biasanya mulai bertemu dengan nilai-nilai dan norma baru yang berbeda dengan nilai dan norma yang selama ini kita kenal. Pada masa remaja juga kita pada umumnya mulai meesakan kegelisahan dalam hubungan kita dengan orang tua dan teman-teman sebaya; kita ingin menunjukkan kemandirian kita disuatu sisi, tetapi disi lain kita belum dapat melepaskan diri sepenuhnya dari pengawasan san ketergantungan kita dari orang tua.

 

1.      Ciri-ciri Fisik dan Fsikologis

 

Bila merujuk pada psikologi perkembangan akan kita temukan pembagian tahp perkembangan psikologis kita menjadi tiga tahap: sembilan tahun pertama, sembilan tahun kedua dan sembilan tahun ketiga. Sembilan tahun pertama kita dapatdisebut dengan masa kanak-kanak. Pada masa ini kita hampir sepenuhnya bergantung pada perhatian dan bimbingan orang lain, utamanya orang tua kita. Dari persoalan mandi, makan, apa yang kita pakai, pilihan sekolah, dan teman hampir semuanaya dipengaruhi oleh keputusan dan kebijakan orang tua kita. Masa kanak-kanak ditandai dengan perkembanagan dan pertumbuhan fisik yang sangat cepat; mulai dari belajar telungkup, merangkak, berjalan, berbicara, dan berpikir.

Usia remaja berada dalam perkembangan psikologis kedua atau sembilan tahun kedua setelah kita melewati masa kanak-kanak. Pada masa ini kita mulai diajari tentang kemandirian  dn bagaimana membuat keputusan untuk disri kita sendiri. Selain itu karakteristik umum dari petumbuhan dan perkembangan fisik kita pada [eriode usia ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Pertumbuhan tinggi badan dan berat badan. Pada umumnya lembat dan mantap; pertumbuhan yang sangat cepat pada masa kanak-kanak telah selesai dan perubahan-perubahan menginjak usia remaja mulai tampak. Pada usia ini kiata cenderung mengalami perubahan hormonal, berupa perubahan suara, mulai tumbuhnya bulu-bulu dibagian-bagian tubuh tertentu, dan penonjolan-penonjolan pada bagian tubuh tertentu bagi anak perempuan.

Pada tingkat usia ini sistem peredaran darah, pencernaan dan pernapasan sudah berfungsi secara lengkap meskipun pertumbuhan masih terus belanjut. Paru-paru kita sudah hampirbberkembang secara lengkap dan tingkat respirasi 18 sampai 20 per menit-mendekati tingkat respirasi orang dewasa. Tekanan darah meningkat sedikt lebih rendah dari pada tekanan darah orang dewasa. Otak dan urat saraf tulang belakang (soinal cord) menjadi ukuran dewasa pada usia 10 tahun, tetapi perkembangan sel-sel yang berkaitan dengan perkembangan mental belum sempurna dan terus berlanjut selama beberapa tahun kemudian. Pada usia 10 tahun, mata kita telah mencapai ukuran dewasa dan fungsinya sudah berkembang secara maksimal.

Masa remaja adalah saat ketika kita tidak lagi menjadi kanak-kanak, tetapi belum memasuki usia dewasa. Meskipun begitu, ada juga diantara kita, remaja, kekanak-kanakan atau remaja yang sudah mampu berpikir layaknya orang dewasa. Masa kanak-kanak adalah masa “ketergantungan aktif” ketika sepenuhnya mengharapkan kasih sayang dan perhatian dari orang lain. Tetapi pada masa kanak-kanak kita juga sadar tentang ketergantungan kita dan berjuang untuk membebaskan diri meskipun kita tidak sepenuhnya menyadari: bebas dari apa atau kebebasan untuk apa? Secara tidak langsung kita menjadi sadar bahwa, meminjam ungkapan Norton, selama ini kita telah “salah-diidentifikasikan”, bahwa kita selama ini bukan “budak”, bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang sama dengan “orang lain” dalam kehidupan kita-bukan sekedar “derivasi-derivasi.” Kita menjadi tergugah untuk menemukan diri kita.

Ketergugahan dan keingintahuan itulah yang merupakan titik yang akan menjembatani antara masa kanak-kanak dan masa remaja. Tetapi bahkan masa kanak-kanak kita yang diaktualisasikan secara lengkappun belum dapat mempersiapkan diri kita secara baik untuk menghadapi masa remaja. Tahap kehidupan baru ini memiliki nilai-nilai yang sama sekali unik, demikian juga deengan kewajiban-kewajiban dan kebijakan-kebijakannya. Masa remaja dan menuntut sebuah kehidupan baru yang lebih agresif dimana apa yang telah kita pelajari pada masa kanak-kanak hanya memiliki sedikit peran dan pengaru.

Masa remaja juga biasanya dikaitkan dengan masa “puber” atau pubertas. Istilah “puber” kependekan dari “pubertas”, berasal dari bahasa latin. Pubertas berarti kelaki-lakian dan menunjukkan kedewasaan yang dilandasi oleh sifat-sifat kelaki-lakian dan ditandai oleh kematangan fisik. Istilah “puber” sendiri beasal dari akar kata “pubes”, yang berarti rambut-rambut kemaluan, yang menandakan kematangan fisik. Dengan demikian, masa pubertas meliputi masa peralihan dari masa anak sampai tercapainya kematangan fisik, yakni dari umur 12 tahun sampai 15 tahun. Pada masa ini terutama terlihat perubahan jasmaniah berkaitan dengan proses kematangan jenis kelamin. Terlihat pula adanya perkembangan psikososial berhubungan dengan berfungsinya kita di lingkungan sosial, yakni dengan melepaskan diri daari ketergantungan penuh kepada orangtua, pembentukan rencana hidup dan sistem nilai-nilai yang baru.

Dalam literatur Barat, remaja juga disebut sebagai adolescent dan masa remaja disebut sebagai adolescentia aau adolesensia. Beberapa tokoh psikologi menekankan pembahasan tentang adolensensia atau masa remaja pada perubahan-perubahan penting yang terjadi didalamnya. Jean Piaget, misalnya, lebih menitikberatkan pada perubahan-perubahan yang dianggap penting dengan memandang “adolesensia” sebagai suatu fase kehidupan, dengan terjadinya perubahan-perubahan penting pada fungsi inteligensia, yang tercakup dalam aspek kognitif seseorang.

Tokoh lain, Anna Freud, menggambarkan masa adolesensia sebagai suatu proses perkembangan psikoseksual, perubahan dalam hubungan kita orangtua dan cita-cita. F. Neidhart juga melihat masa adolesensia sebagai masa peralihan ditinjau dari kedudukan ketergantungannya dalam keluarga menuju kehidupan dengan kedudukan “mandiri”.

Sedangkan E.H Erikson mengemukakan timbulnya perasaan baru tentang identitas dalam diri kita pada masa adolesensia. Terbentuknya gaya-gaya hidup tertentu sehubungan dengan penempatan diri kita, yang tetap dapat mengalami perubahan baik pada diri kita maupun kehidupan sehari-sehari.

Masa remaja meliputi perubahan-perubahan yang terjadi dalamnya. Remaja merupakan masa peralihan antara usia 12 sampai 21 tahun. Mengingat pegertian remaja menunjuk pada masa peralihan sampai tercapainya masa dewasa, maka sulit menetukan batasan umurnya. Tetapi setidaknya dapat dikatakan bahwa masa remaja dimulai pada saat timbulnya perubahan-perunbaha berkaitan dengan tanda-tandake dewasaan fisik yakni pada usia 11 tahun atau mungkin 12 tahun pada anak perempuan sedangkan pada anak laki-laki umumnya terjadi pada usia di atas 12 tahun.

 

 

Sumber-sumber Makna Hidup

 

 

Untuk mencapai kehidupan yang bermakna, setidaknya kita harus mengetahui apa saja yang menjadi sumber dari makna hidup itu sendiri. Disini akan diuraikan setidaknya ada empat nilai yang merupakan sumber makna hidup, yakni:

1        Creative values (nilai-nilai kreatif) : bekerja dan berkarya serta melaksanakan tugas dengan keterlibatan dan tanggung jawab penuh pada pekerjaan. Sebenarnya pekerjaan hanya merupakan sarana yang dapat memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup. Makna hidup bukan terletak pada pekerjaan melainkan pada sikap dan cara kerja yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya. Berbuat kebajikan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan termasuk usaha merealisasikan nilai-nilai kreatif. Dalam hal ini, di masa remaja kita dapat melibatkan diri dengan berbagai aktivitas dan kegiatan baik di sekolah maupun orang-orang sekitar kita. Manfaat dari sebuah kegiatan dapat kita lihat dari dampaknya terhadap diri kita secara langsung: apakah kegiatan tersebut semakin mendewasakan kita atau sebaliknya? Apakah egiatan yang kita lakukan semakin mendekatkan kita dengan orang lain atau sebaliknya? Apakah kegiatan-kegiatan itu menunjang pencapaian kita akan cita-cita tertentu yang akan menjadikan hidup kita lebih baik atau sebaliknya?

2        Experintal values (nilai-nilai penghayatan) : meyakini dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, keadilan, keimanan, dan nilai-nilai lain yang dianggap berharga. Dalah hal ini cinta kasih merupakan nilai yang sangat penting dalam mengembangkan hidup barmakna. Mencintai seseorang berarti menerima sepenuhnyakeadaan orang yang dicintai seperti apa adanya serta benar-benar memahami kepribadiannya dengan penuh pengertian. Dengan jalan mengasihi dan dikasihi, kita akan merasakan hidup kita sarat dengan pengalaman-pengalaman [enuh makna dan mebahagiakan (Bastaman, 1996). Sumber makna hidup ini sangat erat kaitannya dengan konsep “empati”

3        Attitudinal values (nilai-nilai bersikap) : menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tak dapat dihindari lagi setelah berbagai upaya dilakukan secara optimal tetapi tidak berhasil mengatasinya. Mengingat peristiwa tragis ini tak dapat lagi dielakkan, maka yang perlu kita ubah sikap dan cara menghadapinya. Dengan mengubah sika diharapkan beban mental akibat musibah akan berkurang, bahkan mungkin saja dapat memberikan pengalam berharga bagi penderita yang dalam bahasa sehari-hari disebut hikmah. Penderitaan memang dapat memberikan makna apabila penderita mampu mengatasinya dengan baik, sekurang-kurangnya dapat menerima keadaan setelah upaya maksimal dilakukan tetapi tetap tidak berhasil dalam mengahadapi musibah ini tersirat dalam ungkapan-ungkapan seperti “makna dalam musibah”, dan lain-lain.

4        Religious values (niali-nilai keagamaan) : sebagai orang yang beragama, tentu saja kita yakin bahwa agama membrikan makna tertentu bagi kehidupan kita. Pribahasa klasik mengatakan, “dengan ilmu hidup jadi mudah, dengan seni hidup jadi indah, dengan agama hidup jadi bermakna”. Agama, setidaknya memberikan rasa keterkaitan dengan dunia transendental atau akhirat dan Allah. Dalam kehidupatan dunia serba terbatas ini, manusia membutuhkan semacam “referensi transendental” dengan dunia yang mengatasi dunia ini.

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2009 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: